Kita Tidak Perlu Menjadi Sempurna

Kita Tidak Perlu Menjadi Sempurna

Zakiego

Zakiego

@zakiego

Tulisan ini dipublikasikan pada 25 Oktober 2020 sebagai tulisan pertama saya di Medium. Karena suatu alasan, saya memindahkannya ke sini. Saya ingin mengenangnya baik-baik. Semoga semua berbaik.


lham ini menghampiri saya pada detik-detik sebelum akhir pekan berakhir. Saat hampir-hampir tidak ada satu pun tugas yang terselesaikan dan kepala terasa semakin sesak.


Hidup singkat, impian teramat banyak. Keinginan tak terbatas, kemampuan berbatas.


Dalam hidup ini ada kepastian-kepastian yang mesti dipahami. Agar bisa tepat mengatur harap, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Agar bila nanti jika kenyataan tak sesuai harap, setidaknya, kita (sedikit) tetap baik-baik saja. Kepastian apa?

Kepastian bahwa di atas bumi ini memang tidak ada yang benar-benar bisa sempurna.

Klise memang. Tetapi tetap saja, seringkali kita masih gagal menerjemahkannya. Masih saja berharap seseorang bisa sempurna sesuai harap kita. Lalu, kecewa, berkali-kali.

Izinkan saya mengatakannya sekali lagi, bahwa di atas bumi ini memang tidak ada yang benar-benar bisa sempurna.

Saat menyusun rencana serapi mungkin, akan tetap ada hal-hal yang terlewat atau tertinggal.

Saat melahap makanan seenak apa pun, pasti ada yang membuatnya kurang sempurna, entah itu pada rasa, harga yang terlalu mahal, atau mungkin terlalu banyak memakannya hingga kekenyangan.

Saat sudah berusaha mengerjakan sesuatu sebaik mungkin, tetap saja akan ada bagian-bagian yang dirasa masih kurang sempurna, mesti diperbaiki lagi.

Saat menyukai seseorang, entah sebaik dan secantik/setampan apa pun, dia tetap mempunyai sisi yang tidak kita suka, sisi kurangnya, pasti.

Saat menjalin hubungan dengan seseorang, maka rasa bosan dan pertengkaran adalah sebuah kepastian. Mustahil selalu bahagia, senang, dan akur selama-lamanya. Mustahil.

Saat telah belajar sekeras yang bisa dilakukan, tetap akan ada materi-materi yang belum bisa dipahami, atau beberapa soal yang tak bisa dijawab.

Dan kepastian-kepastian lainnya.


Lalu setelah memahami itu, selanjutnya apa?

Menerimanya.

Contohnya, rasa bosan — ini salah satu hal yang kerap membuat saya kesal saat ada yang mengeluhkannya .

Ketika memutuskan untuk membersamai seseorang, mengisi hari-hari bersamanya, maka pasti akan sampai pada satu titik saat semuanya terasa jenuh, membosankan.

Jika hanya karena itu, lalu berhenti, dan kemudian berpindah ke lain hati maka bodoh sekali.

Mengapa? Sebab ketika memilih seseorang yang lain, selama ia tetap seorang manusia, maka sama saja, pasti akan kembali merasakan yang namanya kebosanan. Terus saja begitu. Berulang.

Apa yang perlu dilakukan?

Bertahan. Itu saja.

Serupa bumi yang sedang diguyur hujan, apa yang harus dilakukan? Cukup berteduh, atau kalau ingin lebih menikmatinya, terobos saja hujannya, lalu saat langit kembali terang tunggu sampai baju yang ada di badan kering.

Kedinginan? Tak apa. Itu lebih baik, ketimbang meninggalkan dunia ini, lalu sembari berharap menemukan dunia lain yang tak akan pernah turun hujan, yang langitnya selalu cerah.


Dengan selalu adanya ketidaksempurnaan di dunia ini, bukan berarti seseorang menjadi malas, yang tak mau berharap, yang enggan memperbaiki diri dan keadaan, bukan itu tujuannya.

Pernah melihat burung yang terbang? Berapa sayapnya? Dua.

Sayap kiri, itu ibarat kesadaran tentang ketidaksempurnaan.

Sayap kanan, itu ibarat harapan untuk berubah menjadi lebih baik.

Kedua-duanya perlu dijaga agar tetap seimbang. Jangan sampai ada salah satu sayapnya yang patah, tidak akan lagi bisa terbang.