Kita Tidak Bisa Lari Dari Diri Sendiri

Kita Tidak Bisa Lari Dari Diri Sendiri

Zakiego

Zakiego

@zakiego

Tentang trauma, depresi, dan monster-monster lainnya yang bersarang di dalam kepala.

Sehabis menonton film–tentang penembakan di sekolah, di Amerika–, saya tergerak untuk menulis tentang ini.

Tokoh utamanya, mengalami kecemasan setelah kejadian penembakan tersebut. Beberapa temannya meninggal. Dia terus terbayang keadaan mencekam, saat suara tembakan melengking di sepanjang lorong sekolah. Setelahnya, dia menjalani hari-hari dengan berat.


Satu tahun ke belakang, saya sempat mengalami kecemasan yang bisa terbilang aneh. Pada apa? Pada satu hal yang banyak ditunggu orang-orang, menautkannya dengan keindahan. Orang-orang biasa menyebutnya dengan nama: senja.

Benar. Saya tidak sedang bercanda. Ketika langit menguning dan hari beranjak gelap, saya tiba-tiba merasakan kesedihan mendalam. Jangan tanya kenapa, saya pun tidak tahu. Tapi saya yakin, itu adalah bagian dari rasa sedih yang pernah saya rasakan, tapi tidak ingat betul karena apa.

Apalagi jika saat matahari tenggelam diiringi hujan atau rintik, selesai, saya hancur. Saya takut melihat keluar. Saya takut merasakan kesedihan. Biasanya saya mencoba mendistraksi diri pada jam-jam tersebut, agar rasa sedihnya tidak terlalu terasa.

Beruntungnya, sekian waktu berlalu, saya tidak lagi merasakan perasaan tersebut. Saya sudah bisa menatap senja dengan perasaan biasa-biasa saja.


Saya memang takut jika dikejar harimau, tapi saya lebih takut saat ada rasa takut yang bersarang di dalam kepala. Untuk kasus harimau, saya bisa lari, bersembunyi, atau pergi ke dunia lain. Tetapi ketika saya –secara tidak sengaja– menyimpan rasa takut di kepala sendiri, ke mana hendak pergi?

Kita tidak bisa lari diri sendiri. Dia bisa datang kapan saja, menghantui sesukanya.