Mati Rasa

Mati Rasa

Zakiego

Zakiego

@zakiego

Semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang tidak saya pedulikan. Hal-hal yang dulu amat menyita waktu dan pikiran, kini, menjadi hal yang biasa.

Begitulah manusia. Kita selalu berubah.

Jalan hidup yang saya pilih, atas penuh kesadaran dan kehendak sendiri, mengantarkan pada jalanan yang tidak mulus.

Berlobang. Banyak bebatuan. Bahkan tidak jarang, saya dipaksa untuk berbalik arah. Tidak mudah.

Tetapi, semua ketidaknyaman itulah yang membentuk saya yang sekarang. Berkali-kali diperlakukan tidak baik, membuat saya resisten. Kebal.

Di antara hal yang kemudian masuk ke dalam daftar ketidakpedulian saya, adalah dibicarakan orang lain.

Jujur, saya tidak terlalu ambil pusing ketika ada orang lain yang membicarakan keburukan saya. Bahkan bisa dikatakan, saya sudah merelakan diri saya untuk dibicarakan (buruk/baiknya) oleh siapa pun. Saya sudah mati rasa. Saya tidak peduli.

Setidaknya, ada tiga alasan yang melatarbelakangi hal tersebut:

  1. Jika seseorang membicarakan keburukan saya, tidak masalah, karena saya memang bukan orang baik. Saya hanya sebuah titik kecil di antara semesta yang amat luas ini. Saya bukan apa-apa. Saya bukan siapa-siapa.
  2. Tidak punya banyak waktu dan tenaga. Urusan sehari-hari saja sudah melelahkan. Bingung membagi jadwal antara bekerja dan istirahat. Belum lagi harus meluangkan waktu dengan orang-orang terdekat.
  3. Mengurusi omongan orang lain tidak berkontribusi apa pun dalam hal pendidikan atau pun karir.

Untuk mencapai titik tidak peduli dengan orang lain, sungguh bukan perkara yang mudah. Saya pun merasakan bagaimana ketika omongan orang lain begitu menusuk perasaan dan menghantui pikiran. Tetapi ketika hal itu terulang berkali-kali, saya mati rasa, saya tidak lagi peduli.