Laki-Laki di Bawah Standar Minimal

Laki-Laki di Bawah Standar Minimal

Zakiego

Zakiego

@zakiego

Pendahuluan

Dalam satu videonya, David Goggins pernah berkata, “It’s so easy to be great nowadays, my friend, cause most people are weak”, atau jika diterjemahkan, “Saat ini sangat mudah untuk menjadi orang hebat, karena mayoritas orang-orang sekarang itu lemah”.

Bermula dari tweet di atas, ketika tahu bahwa ada kepala keluarga, yang dengan santainya tidak berpuasa di bulan Ramadan. Padahal dia tidak memiliki keringanan untuk meninggalkan puasa.

Dari topik tersebut, malam itu, obrolan berlanjut ke hal yang lebih mendasar.

Pembahasan

Saya mengajukan sebuah pernyataan sederhana, bahwa sekarang ini, (—meminjam ucapan David Goggins), sangat mudah untuk menjadi laki-laki yang berkualitas, mengapa? Karena kebanyakan laki-laki, bahkan tidak bisa mencapai standar minimal, untuk dikatakan sebagai laki-laki baik (biasa).

Mari kita duduk sejenak, dari sekian banyak teman yang kita punya, berapa orang yang memenuhi standar minimal laki-laki “biasa” berikut ini:

  1. Shalat lima waktu (cukup di rumah, jika di masjid, maka itu luar biasa)
  2. Berpuasa penuh di bulan Ramadan
  3. Bisa membaca Al-Qur’an dengan benar (tidak perlu bernada indah, cukup bisa membaca dengan membedakan setiap hurufnya)
  4. Tidak merokok

Sekali lagi, berapa orang yang kamu tahu memenuhi standar minimal di atas? Saya berani bertaruh, tidak sampai sepuluh persen, dari sekian ratus teman yang ditemui dalam hidup 🤷🏻‍♂️

Semua kriteria di atas masih standar minimal. Seseorang yang memenuhi kriteria tersebut tidak perlu dipuji, itu hal biasa.

Seseorang yang menjaga shalat lima waktunya, itu hal biasa, standar minimal, memang sudah kewajiban, ia tidak perlu dipuji.

Namun karena rendahnya kualitas laki-laki sekarang, saat tidak menjaga shalat adalah hal yang biasa, maka menjaga shalat terlihat luar biasa.

Teringat cerita seorang teman, yang memilih pasangannya, hanya karena hal sederhana, yaitu, ia menemukan pasangan yang menjaga shalat lima waktunya.

Saking banyaknya yang berada di bawah standar. Sesuatu yang menjadi standar minimal terasa mengagumkan.

Kita belum berbicara kemampuan dasar lebih lanjut, yang setidaknya harus dimiliki seorang laki-laki, seperti, 1) paham ilmu agama dasar, mengerti makna syahadat, dan tahu hukum-hukum shalat, dan; 2) bisa menjadi imam, setidaknya bagi keluarga kecilnya.

Lalu kapan seseorang dikatakan memiliki standar yang tinggi, dan patut dipuji? Bagi saya, contohnya, ketika bisa membaca Al-Qur’an dengan pelafalan huruf yang benar, memiliki hafalan beberapa juz Al-Qur’an atau bahkan satu Al-Qur'an penuh, bisa menjadi imam bagi orang banyak, bisa berbahasa Arab, mengerti hukum-hukum agama secara rinci, dan lainnya.

Penutup

Malam itu, di akhir pembicaraan, saya berucap, ternyata, sebenarnya laki-laki yang walaupun hanya memenuhi standar minimal, memiliki “bargaining position” yang kuat. Memiliki posisi jual yang tinggi. Karena sebenarnya kalian adalah manusia langka. Sebab itu, bersyukurlah dan jangan rendah diri. Orang-orang seperti kalian hanya belum “ditemukan” oleh orang yang tepat.


Selesai ditulis di Banjarmasin, 3 April 2024 pada 23:59 (malam ke-24 Ramadan 1445 H)